BPUN GROBOGAN: Artikel

Lembaga Pendampingan Belajar Pasca Ujian Nasional, untuk anakanak kelas 12 SMK/SMA/MA Sederajat yang memiliki niat dan tekad yang kuat untuk kuliah dengan beasiswa,

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

MENEMBUS BATAS ASA



ALUMNI BPUN GROBOGAN



 Ir. Soekarno  pernah mengatakan tentang JAS MERAH (jangan sampai melupakan sejarah). Kata-kata yang sudah tak asing bagi semua orang. Sejarah merupakan instrument dinamika dalam diri individu seseorang ataupun dalam masyarakat, yakni merupakan sebuah proses terbentuknya jatidiri seseorang entah itu aku, kamu, kita, mereka dan teruntuk semua manusia yang masing-masing meyandang status sosialnya.
Sebagai manusia tentunya tak luput dari segala Hasrat dan keinginan  dalam memenuhi kebutuhan hidup yang semakin memaksa kita untuk bergerak, berusaha dalam mencapainya. Kata pepatah “ Banyak Jalan Menuju rumah” mungkin hal ini sama jika kita manifestasikan dalam upaya mencapai keinginan atau cita-cita seseorang. Artinya , banyak cara menuju kesuksesan, sukses dalam mencapai keinginan yang dicita-citakan. Tentunya dengan kerja keras untuk hal itu.
Kerja keras dan kesuksesan adalah relatif bagi semua orang, ada yang berpendapat sukses berupa kekayaan materi ataupun sukses berupa kekayaan intelektual. Tetapi menurut saya  untuk mencakup kedua hal tersebut perlunya sebuah komponen utama layaknya CPU pada computer, yakni Pendidikan, sebagai motor penggerak perubahan. Di era saat ini Pendidikan semakin lama semakin maju, ditambah kemajuan teknologi yang tak bisa dihindari oleh kita.  Tetapi tak luput juga akan masalah yang tak ada habisnya, apalagi di negara berkembang seperti Indonesia ini. Factor ekonomi menjadi masalah krusial saat ini untuk menempuh Pendidikan tinggi. Hal itu dirasakan oleh para kelas menegah ke bawah (Petani, buruh tani, nelayan, dsb) termasuk saya dengan keluarga yang apa adanya.
Sedikit pengantar dari saya, saya Deni Indarto, pemuda desa yang kini sedang mengenyam Pendidikan S1 di tanah sebrang, yakni Madura. Mungkin beberapa pertanyaan sama sudah terlontarkan untuk saya mengapa harus Madura, yang terpenting ini adalah pilihan rasional saya dan tak perlu Panjang lebar saya bercerita. Berasal dari keluarga dengan ekonomi dibawah kelas menengah, tentu tak membuat saya jengah.
Berbicara soal mengenyam pendidikan tinggi, mungkin perspektif masyarakat tentang hal itu adalah biaya yang diluar kemampuan finansial mereka alias mahal, terutama masyarakat desa dilingkungan saya. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi yang mereka dapat mengenai dunia luar, terutama studi Pendidikan tinggi yang mana terdapat program beasiswa di dalamnya. Saya adalah salah satu diantara ribuan mahasiswa yang mendapatkan beasiswa. Hal ini terkadang membuat saya berfikir tentang masa SMA saya yang mungkin dapatkan dikatakan sebagai cah goblok sebagaimana ujar orang tua saya, belajarpun hanya saat disuruh orang tua dan mungkin juga bisa  disebut siswa apatis,  tak menyangka sampai pada titik saat ini yang berawal dari ketidaktahuan atau dapat dikatakan kekolotan akan ilmu pengetahuan.
Di Universitas Trunojoyo Madura saya diterima dengan beasiswa , dengan usaha dan do’a saya bisa sampai di kampus yang terletak di tanah garam ini. Awal mula tak menyangka hingga sampai saat ini, mungkin garis takdir yang sudah dikehendaki-Nya yang mengantarkan saya sampai pada titik ini. Foto saya diatas adalah ibarat sebuah titik kecil di dalam kertas putih yang mana kita bebas menggambarnya.
Tentu semua cerita ini tak hanya omong kosong dan tak instan, adapun suatu proses. Apakah itu? Sebuah wadah saya berproses yang bernama BPUN atau Bimbingan Pasca Ujian Nasional. Berawal dari seorang Mahasiswa yang datang jauh-jauh menghampiri saya bersama rekan sejawat untuk berdiskusi mengenai jalur masuk perguruan tinggi yang saat itu jauh dari angan-angan saya. Setelah berbicara Panjang lebar mahasiswa  yang akrab dipanggil dengan sebutan mas Eko itu mengenalkan apa itu BPUN dan tujuannya. Saya pun hanya sekedar mengangguk sebagai bentuk respon terhadapanya pada waktu itu hingga sampai pada saya mencoba mengikuti BPUN ini.
BPUN merupakan suatu bentuk implementasi kepedulian terhadap dunia Pendidikan, terutama bagi mereka yang kurang mampu dalam segi ekonomi yang menjadi sasaran utama. Adapun Pendidikan karakter, motivasi, beserta trik dan tips untuk menggapai kampus impian terdapat  di dalamnya. Sampai saat ini sudah ratusan alumni yang tersebar dari berbagai penjuru kampus di Indonesia.  Jika masih belum percaya mengenai kesahihan bukti yang ada, kita bisa bersua dan biarkan saya bercerita tentang apa itu BPUN dan segala pengalaman yang luar biasa. So, tunggu apa lagi mari bergabung di BPUN.

Oleh : Deni Indarto


Share:

KEYAKINAN DAPAT MENGALAHKAN SEGALANYA





Assalamualaikum wr.wb.
Ketika terbit tiba
Ribuan cinta jadi satu
Jadi semangat
Tuk kutempuh jalan baru
Kilau cahaya
Menghapus berbagai sendu
Tercapai cita
Sebuah perjuangan yang telah lalu
Hiasan bahagia
Timbul sedikit haru
Serta doa yang kupanjatkan untuk-Nya
Mengingatku tuk bersyukur selalu

Aku Arditia Widia Putra, teman-teman memanggilku putra. Mahasiswa Falkutas Syariah Prodi S1 Hukum Keluarga Islam di IAIN Salatiga. Syukur tak henti kucurahkan. Impian yang dulu hanya angan, kini terpampang dengan jadinya mahasiswa di kampus impian. lebih-lebih mendapatkan Bidikmisi, dan ini adalah sepenggal kisahku sebelum masuk kuliah dan mendapatkan Bidikmisi.

kelas tiga Madrasah Aliyah. Saat kebingungan melanda mau kemana. Kerja atau mengejar cita-cita. Keluarga yang hanya mampu mengenyam pendidikan sekolah dasar sederajat, sementara anaknya bercita-cita setinggi gunung di awan sana. Sukar di otak bukan? 

Aku hanyalah seorang anak desa, bapakku bekerja sebagai petani, dan ibuku seorang ibu rumah tangga. Penghasilan yang mereka dapatkan tak seberapa, hanya cukup untuk makan sehari-hari dan terkadang buat kebutuhan sehari-haripun masih kurang. Tahun itu adalah masa-masa sulit bagiku, keluargaku, keadaan keluargaku juga mulai berubah, masalah silih berganti. Gali lubang tutup lubang menjadi kebiasaan keluargaku. 

Biaya sekolahku sering tersendat bahkan setelah lulus sekolahpun aku masih punya tagihan SPP selama 1 setengah tahun, sampai-sampai ijazah MA ku pun masih ditahan di sekolah. Hal itulah yang menguras mentalku, aku takut bercita-cita tinggi, apalagi berfikir untuk kuliah, apakah aku bisa, sedangkan keadaan ekonomi keluargaku bisa dikatakan masih kurang.

Namun tekadku mulai berubah semenjak aku mendengar guru BK sering bercerita tentang perjuangan beliau untuk kuliah dan berbicara tentang beasiswa di dunia perkuliahan. Aku berfikir lebih rasional, kalau aku tidak kuliah aku mau kerja apa? Apakah orang tuaku bisa bangga padaku? Apakaah aku bisa menggapai cita-citaku dengan lulusan MA? Pertanyaan demi pertanyaan kini mulai muncul.

Dan saat itulah aku mulai aktif berkomunikasi dengan guru BK di sekolahku. Aku sering menanyakan bagaimana cara mendaftar kuliah dan mendapatkan beasiswa. Dari semua informasi yang aku dapatkan dari guru BK dan cerita tentang seorang yang mendapatkan Bidikmisi, kini aku mulai optimis dengan keyakinanku.

Dengan berjalannya waktu, ada kakak-kakak mahasiswa dari berbagai kampus datang kesekolahanku, mereka mensosialisasikan sebuah program yang tak pernah aku bayangkan yaitu BPUN Grobogan. BPUN adalah lembaga pendapingan untuk membantu siswa siswi kelas  12 SMA\SMK\MA sederajat yang memiliki niat dan tekad yang kuat untuk kuliah, namun terkendala dengan biaya (ekonomi). BPUN juga  melakukan pendampingan belajar dalam mempersiapkan peserta untuk menghadapi seleksi ke PTN atau PTS, agar nantinya peserta dapat diterima keperguruan tinggi dengan mendapat Beasiswa.
 Dengan adaya BPUN Grobogan inilah awal langkah perjuanganku untuk melanjutkan keperguruan tinggi. Dan kini telah tiba saatnnya untuk pengumuman SBMPTN, rasa ragu dan takut bercampur jadi satu. Ragu kalau aku tidak lolos SBMPTN, takut jika aku lolos SBMPTN tapi tidak keterima Bidikmisi, yang aku lakukan hanyalah berdoa dan berdoa saja, karena semua usahaku sudah aku lakukan semua. Tetapi tuhan berkata lain, tuhan tidak mengabulkan doa-doaku.

Memang dalam meraih sebuah mimpi terkadang ada hambatan. Tekadku mulai tergoyahkan saat aku mengetahui bahwa aku  tidak lolos SBMPTN, aku sangat sedih dan malu ketika aku ditanya orang tuaku, tetangga, dan teman-temanku bahwa aku tidak lolos SBMPTN. Tapi kakak-kakak BPUN Grobogan tidak membiarkanku untuk tidak kuliah, dia masih mencari informasi tentang jalur masuk melalui beasiswa diberbagai kampus-kampus, baik itu negeri maupun swasta agar yang tidak keterima lewat jalur SBMPTN masih bisa untuk kuliah, dan Alhamdulillah aku bisa keterima di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga dengan mendapatkan Bidikmisi.

Terimakasih BPUN Grobogan, terimakasih BAZNAS Grobogan, terimakasih Bidikmisi. Kini dengan adanya engkau aku bisa kuliah tanpa ada kendala ekonomi.
Giliran kalian generasi perubah bangsa. Daftarkan segera menjadi keluarga kami. Bimbingan gratis dan jembatanmu masuk perguruan tinggi. Tak ada kesia-siaan melangkah, hanya waktu yang dapat menjawab peluh kesah perjuangan.


Oleh : Arditia Widia Putra
Alumni BPUN Grobogan 2019

Buruan Daftar Dan bergabung bersama Kami di BPUN Grobogan Caranya  

DAFTAR

Share:

STORY IN BPUN GROBOGAN



Alumni BPUN Grobogan



Alumni BPUN Grobogan


Assalamualaikum wr.wb

Haiii para pejuang perguruan tinggi, apa kabar? Semoga sehat selalu ya...o ya aku mau berbagi pengalaman dikit boleh nggk? Boleh yaa,,tapi syaratnya harus baca sampai bawah, wkwk...

Perkenalkan namaku Erfita Sari, bisa dipanggil fita ataupun erfita, asal jangan panggil sayang ya...wkwk.



Aku tinggal di desa Karangrejo, kecamatan Gabus. Aku terlahir dari keluarga yang cukup sederhana. Bapak dan ibu ku hanyalah seorang petani yang tidak memiliki pekerjaan sampingan lainnya alias nganggur jika tidak ke sawah. Cukup tau kan penghasilan seorang petani dan berapa lama petani harus menunggu penghasilan itu datang? Lalu jika gagal panen, gimana kasih makan anak" nya? Tak ada cara lain selain hutang. Ya itulah yang bisa dilakukan orang tuaku supaya bisa tetap menghidupi keluarganya.

Memiliki cita" untuk berkuliah tentunya sesuatu yang lucu bagi anak seorang petani seperti aku. "Uang dari mana untuk bayar kuliah?" Begitulah cibiran pedas para tetangga ku yang pernah terlontar digendang telingaku.



"Tidak usahlah kuliah nak, setelah lulus langsung kerja aja, bayar kuliah itu mahal, banyak yang kuliah tapi jadi pengangguran". Nasehat ibuku. Ini merupakan kesekian kalinya aku menyampaikan keinginanku untuk kuliah, tapi respon yang kudapat selalu seperti itu.



Hingga akhirnya, terdengarlah kabar tentang beasiswa bidikmisi yaitu suatu beasiswa yang diperuntukkan bagi anak-anak kurang mampu namun berprestasi.



Untuk petama kalinya aku mendaftar perguruan tinggi lewat jalur SNMPTN, namun aku tidak lolos. Perasaan sedih, takut, kecewa bercampur menjadi satu. Aku sempat berpikiran untuk menghentikan semua tekadku dalam mewujudkan keinginanku, namun takdir berkata lain. Aku tidak jadi putus asa, karena unuk masuk ke perguruan tinggi masih banyak jalur lainnya. Hingga akhirnya aku mendaftar jalur SBMPTN.



Seiring menunggu tes dan pengumuman SBMPTN, aku mendaftar suatu bimbingan gratis guna mempersiapkan tes SBMPTN nantinya. Bimbingan ini bernama BPUN Grobogan yang dilakukan setelah terselesaikannya ujian nasional kelas 12. Cara masuknya pun mudah, aku hanya tinggal mendaftar di link yang sudah ada dan mengikuti prosedur tesnya. Setelah tes, pengumunan pun tiba dan aku pun lolos mengikuti bimbingan tersebut. Kemudian aku mengikuti bimbingan selama kurang lebih 1 bulan. Disini aku mendapatkan banyak manfaat yang tidak akan pernah aku lupakan.

Tapi endingnya di SBMPTN pun aku tidak lolos, aku merasa bimbingan yang aku ikuti terasa sia-sia. Tapi aku salah, dari sinilah aku bisa keluar dari permasalahan itu. Hingga akhirnya aku tetap bisa masuk perguruan tinggi.

Nah itulah sedikit cerita pengalaman pribadiku, semoga bermanfaat.

Penasaran kenapa aku bisa masuk perguruan tinggi tanpa lewat jalur SNMPTN dan SBMPTN?

Jawabannya ada di BPUN Grobogan. Terakhir dariku, aku bukan anak kota yang pandai bergaya, aku anak desa yang bercita-cita membahagiakan kedua orang tuaku, kesuksesan bukan hanya milik orang yang mampu, melainkan milik orang yang mau berjuang dan berusaha.

Wassalamualaikum wr.wb

Oleh : Erfita

Alumni BPUN Grobogan 2019

Buruan Daftar Dan bergabung bersama Kami di BPUN Grobogan Caranya  

DAFTAR

Share:

BPUN Grobogan; Memantabkan Diri Mewujudkan Mimpi




Alumni BPUN 2019
Alumni BPUN 2019

 Pagi yang sejuk di bulan Januari ini, Semarang diingatkan kembali dengan kisah kasih perjuangan seorang anak desa untuk mewujudkan mimpinya. Berangkat dari keterbatasan dan pergolakan batin

Pagi ini,  sang surya nampak malu-malu menyapa bumi. Tetesan embun yang berada di sela-sela dedaunan  menandakan bahwa semalam turun hujan. Sejauh mata memandang, hanya ada indah dan keindahan kota Semarang. Di kejauhan sana,  terdengar sayup-sayup lantunan ayat suci al-Qur’an. Sejuk dan damai benar, batin saya. Sembari mentadaburi kuasa Tuhan, saya pun mulai melangkahkan kaki mengikuti kehendak hati. Tak terasa lelehan air mata membasahi pipi.

Tiba-tiba, pikiran ini pun serasa dihempas kembali ke masa silam. Masa dimana saya diliputi rasa kekhawatiran dan kebimbangan. Perasaan yang seolah tak bisa diutarakan dengan lisan maupun tulisan. Tentang mimpi, itulah yang saya risaukan.

Kala itu, katakanlah satu tahun yang lalu, saya tengah disibukkan dengan aktivitas baru yang memang biasa dialami oleh murid kelas 12 pada umumnya. Apalagi kalau bukan ujian kelulusan beserta seluk beluknya. Semua murid nampak rajin belajar. Hal tersebut dibuktikan dengan tangan-tangan yang senantiasa memegang buku pelajaran di manapun mereka berada. Meskipun, ada juga di  antara mereka yang  tak benar-benar “belajar” dan malah guyonan, tapi yang terpenting adalah esensi mereka dalam mempersiapkan ujian. Mengenai hasil, biarlah Allah yang menentukan.

Oh ya, kenalkan saya Wahyuni Tri Ernawati asal Grobogan, tepatnya dari Dukuh Pondok, Desa Plosoharjo. Kalian boleh memanggil saya sesuai dengan apa yang kalian suka, asalkan nama itu masih menjadi bagian dari nama saya.  Namun, sedari kecil teman-teman memangil saya Yuni. Saya anak terakhir dari tiga bersaudara. Ayah dan ibu saya tentu sudah lansia, tapi dedikasi mereka tak pernah ada surutnya. Sebagai anak bungsu di keluarga, saya mempunyai peran menjaga orang tua dan lebih banyak di rumah, apalagi saya seorang perempuan. Walau mereka tidak mengatakannya secara langsung, tapi saya sangat paham betul apa yang menjadi kebutuhan mereka.


Kembali kepada kesibukan menjelang ujian. Beberapa hari belakangan ini, sekolah saya yaitu MA Shofa Marwa Toroh, tengah ramai kedatangan tamu yang spesial. Tamu tersebut bukan hanya berasal dari berbagai daerah, melainkan bermacam universitas dengan latar belakang masing-masing. Tujuan mereka tiada lain yaitu untuk mensosialisasikan PTN/PTS (Perguruan Tinggi Negeri/Swasta) sekaligus memberikan pengetahuan dan pengarahan bagaimana dapat berkesempatan kuliah disana. Di antara kakak yang menjadi tamu spesial itu, ternyata ada yang saya kenali. Bagaimana tidak? lha wong dia itu alumni sekolah saya kok hehe. Malah abnormal rasanya kalau saya sampai tidak ingat.

Dari penyuluhan yang mereka lakukan, saya jadi sedikit tahu perihal dunia kampus. Kalau tidak salah, mereka menerangkan tentang mekanisme masuk kampus, sistem pembelajaran, UKM atau organisasi yang ada di kampus, dan lain-lain. Namun,  yang paling menyita perhatian saya adalah tentang beasiswa.  Lain halnya dengan teman-teman saya yang lebih ingin tahu tentang macam-macam universitas, saya malah terpekur dengan keterdiaman. Saya membayangkan, bagaimana ya rasanya kuliah itu? Apakah seperti di tayangan TV yang biasa keluarga saya tonton?. Dengan munculnya khayalan tersebut, saya jadi ingin berkuliah, toh ada beasiswa bukan? Jadi apa yang perlu dipermasalahkan?

Ketika asyik larut dalam ketermenungan, saya pun lantas mengembalikan kesadaran diri saya, disertai tepukan pada pipi yang sebenarnya sakit hehe. Maklum, efek melamun yang tidak-tidak ya jadi begitu. Saya tahu bahwa ada jalan bagi saya untuk bisa berkuliah, tapi jika dibenturkan dengan orang tua, maka jadi panjang urusannya. Mereka pasti langsung menolak keinginan saya. Terlebih saya sadar betul, apa yang saya pikirkan tadi hanya sebatas angan semu saja. Sempat-sempatnya  saya berpikiran seperti itu, kuliah?. . (mimpi kamu Yun).

Seiring berjalannya waktu, keingininan itu pupus dan hilang bak ditelan bumi. Ia terlalu lemah, sehingga dapat dengan mudah dikalahkan oleh persepsi yang belum pasti adanya. Khayalan itu pun juga hanya sebatas khayalan yang terkubur oleh ketidakmantaban hati. Hingga pada akhirnya, mimpi yang sempat terlintas tak ubahnya “bunga tidur” di siang hari. Sampai suatu ketika, saya dikenalkan dengan lembaga yang katanya mempermudah murid kelas 12 maupun yang gap year untuk menempuh studi di Perguruan Tinggi secara percuma alias GRATIS. Lembaga tersebut bernama BPUN (Bimbingan Pasca Ujian Nasional), yang dibina oleh Bapak Wahyudi, S.Pd.I.

Sesuai dengan namanya, BPUN hadir untuk membimbing sekaligus menjembatani para murid yang telah lulus dari bangku SMA/SMK/MA/ sederajat agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tanpa bayaran sepeserpun. Bekerja sama dengan BAZNAS dan Yayasan al-yahya Nusantara, BPUN selalu ada  setiap tahunnya. Awalnya, BPUN bukan hanya berlokasi di Grobogan saja, melainkan seluruh daerah di Indonesia. Namun, lambat laun hanya beberapa daerah saja yang masih berkomitmen menyelenggarakan BPUN.

Kegiatan-kegiatan BPUN yang memakan waktu kurang lebih dua minggu, tentu membutuhkan biaya yang besar. Karenanya, banyak dari daerah penyelenggara yang menghentikan atau tidak melanjutkan BPUN.

Kabar baiknya, tahun 2019, kabupaten yang saya tinggali ini masih tetap mengadakan BPUN. Antara percaya tidak percaya dan dorongan darimana, akhirnya saya memutuskan untuk ikut-ikutan daftar. Ada sekitar sembilan anak dari sekolah saya yang mendaftar BPUN dan yang lolos seleksi hanya dua orang, termasuk saya sendiri.

Anehnya, bukan bahagia yang saya rasa atas hasil ini, tapi malah bingung yang menghinggapi. “Saya kan tidak mau kuliah, lalu mengapa daftar BPUN? Apalagi saya kan tidak bisa daftar SBMPTN? ”. Kira-kira kalimat itulah yang terpikir di benak saya tatkala saya mengetahui lolos seleksi BPUN. Saya jadi merasa bahwa apa yang saya perbuat hanya suatu kesia-sian belaka, hingga saya pun memutuskan untuk keluar dari BPUN.


Namun, untuk merealisasikan rencana tersebut ternyata tak semudah yang saya kira. Para panitia BPUN seperti kak Prio Hutomo, kak Eko Santoso, dan panitia yang lain tidak menghendaki pilihan saya. Mereka malah memberikan motivasi bahwa saya pasti bisa kuliah entah melalui jalan yang mana. Mereka memotivasi dan memantabkan diri saya agar tetap melanjutkan perjuangan mewujudkan mimpi.  Saya pun didera kebimbangan dengan rasa campur aduk tak karuan. Padahal, jauh di lubuk hati terdalam, hati kecil saya seakan mengiyakan apa yang mereka ucapkan. Apa yang harus saya lakukan Tuhan? 

Perlahan, setelah memperoleh pencerahan dari kakak-kakak BPUN, sekaligus mendengar pendapat dari teman-teman, saya pun mengurungkan niat saya untuk mengundurkan diri. Dan pilihan yang saya ambil ini, ternyata berdampak besar pada hidup saya baik sekarang maupun masa depan. Bagaimana tidak? BPUN tidak sekedar menjembatani mimpi saya, tapi lebih dari itu. BPUN juga memberikan materi yang berkaitan dengan Seleksi jalur SBMPTN dan UMPTN, tips dan trik masuk kampus, Ke-Organisasian, Ke-Mahasiswaan, Kebangsaan, pembimbingan dan motivasi yang akan membentuk mental guna menjadi sosok yang berani dan berdikari. Saya menjadi tidak menyesal pernah menjadi keluarga BPUN angkatan 2019. Jadi, bagi kalian yang tengah berada di kelas 12 atau yang udah lulus ikutan gabung yuk dengan keluarga BPUN 2020 !! Tidak perlu ragu lagi, saya saja sudah membuktikan sendiri.



Pagi yang sejuk di bulan Januari ini, Semarang diingatkan kembali dengan kisah kasih perjuangan seorang anak desa untuk mewujudkan mimpinya. Berangkat dari keterbatasan dan pergolakan batin, ia berusaha agar selalu menjadi pribadi yang mantab dan semangat mencapai tujuan. Ia juga mempunyai ambisi besar bahwa ia akan menggenggam apa yang ia usaha dan do’a kan. Setelah satu tahun berlalu, kini anak itu telah berhasil kuliah di UIN Walisongo Semarang, persis seperti apa yang dahulu ia khayalkan. Ia bersyukur, Allah memudahkan jalannya dan melunakkan hati orang tuanya. Namun percayalah, ini bukan akhir, tapi baru permulaan. Anak itu (Yuni) akan selalu berjuang untuk hidup yang lebih baik lagi. Iya, saya harus berubah-membaik-menselalu. Terima kasih BPUN. Wallahu a’lam bi al-shawwab.


Oleh: Wahyuni Tri Ernawati

Alumni BPUN 2019, UIN Walisongo Semarang

Buruan Daftar Dan bergabung bersama Kami di BPUN Grobogan Caranya  
Share:

Wujudkan Mimpimu Melalui BPUN GROBOGAN


ALUMNI BPUN GROBOGAN
Salsa Alumni BPUN Grobogan 2019


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hay para pejuang kampus? Gimana kabar nya?Perkenalkan nama saya, Salsa Destiani Mufidah. Kelahiran Grobogan,14 Desember 2000 Asal MA Al-Azhar Wirosari.

  Pertama saya mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menikmati bangku perkuliahan, mengenyam pendidikan S1 Program Studi Akuntansi di Universitas Stikubank Semarang. Di sini saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya, tepatnya pengalaman 1 tahun yang lalu yang telah saya alami.

 Saya tinggal bersama ibuk dan bapak saya, bapak saya seorang kuli bangunan, ibuk saya seorang petani yang tiap hari pergi ke sawah,  Saya 3 bersaudara, adik saya masih Sekolah SMA dan SD. Sejak kelas 12 saya ingin sekalit bisa kuliah, namun apa mungkin bisa dengan kondisi ekonomi yang tergolong kelas menengah ke bawah? Sedangkan biaya kuliah itu mahal? Apa aku kerja aja?. Setelah ku pertimbangan waktu muda terlalu berharga bagiku  apabila tidak di gunakan untuk mencari ilmu, Namun pengetahuan dan pengalaman ku masih terlalu cupu untuk dunia perkuliahan. Ahh. Aku Pasti Bisa Kuliah. Saya tetap yakin Allah pasti memberikan jalan kepada hambanya yang ingin berusaha dan berdoa.

 Alhamdulillah, tepat pada bulan Februari, Aku dikenalkan yang namanya BPUN. Saat itu ada seorang mahasiswa datang ke sekolahan, mensosialisasikan mengenai BPUN Grobogan. Awalnya aku ragu, ikut BPUN Ndak ya? Masak zaman modern seperti ini ada bimbel gratis sih?  bisa kuliah gratis? Dapat uang saku pula? Beneran nggak ya? pikirku saat itu.

 Dengan semangat dan tekad ku untuk kuliah akhirnya aku pun bersama 3 temanku memutuskan mendaftar BPUN Grobogan, Mengikuti seleksi,  dan Bimbingan selama kurang lebih 1 bulan,  BPUN Grobogan Sendiri adalah Lembaga yang menjembatani anak-anak Grobogan yang mempunyai Niat dan Tekad Kuliah Yang kuat, Namun Terkendala dengan Biaya (Ekonomi). Seperti yang ku alami hehehee.

BPUN melakukan Pendampingan Belajar dalam mempersiapkan  menghadapi Seleksi Masuk Ke Perguruan Tinggi Negeri Maupun Swasta, Mendapatkan Pendampingan Akademik dari Ahlinya,Tips & Trik masuk Perguruan Tinggi Negeri Maupun Swasta dengan Beasiswa.  Bpun bukan sekedar bimbel  seperti pada umumnya ya yang hanya di kasih materi materi sbmptn. Tidak ya, di BPUN kita belajar banyak hal, Belajar saling mengenal dan memahami orang lain, saling menghargai, Selain itu kita juga di bekali dengan softskill, Kepemimpinan, Mengasah minat dan bakat, dan kita juga mendapatkan  Keluarga baru, yaitu Keluarga BPUN Grobogan.

SBMPTN dan UMPTKIN telah ku lewati, meskipun hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Yah mungkin belum rezekiku bisa kuliah lewat jalur tersebut,  Allah pasti punya rencana yang lebih baik baik untukku, positif thinking!, Meskipun saat itu  orang tua ku sempat tidak yakin kepadaku. "Udah lah kerja aja nggk usah kuliah, ikut seleksi Ndak keterima keterima" kata orang tua ku. Namun kondisi yang ku alami saat itu tidak sedikit pun memudarkan niat dan tekad ku untuk kuliah.  

Akhirnya di BPUN aku di daftarkan di PTS yaitu Universitas Stikubank Semarang dengan beasiswa Bidikmisi. Ku bersyukur telah di pertemuan dengan BPUN Grobogan. Andai kata ku tak bertemu dengan BPUN Grobogan. Mungkin aku belum bisa merasakan bangku kuliah saat ini,  Alhamdulillah salah satu mimpiku yaitu bisa kuliah , Akhirnya bisa terwujud melalui BPUN Grobogan.

Inilah Pengalaman ku , Bagaimana dengan kalian? Yuk buat kalian yang ingin melanjutkan kuliah tapi terkendala dengan biaya. Jangan khawatir!, BPUN GROBOGAN hadir untuk mewujudkan mimpi kalian, Yuk segera join dengan kami menjadi Keluarga BPUN.

Salsa

Buruan Daftar Dan bergabung bersama Kami di BLUN Grobogan Caranya  


DAFTAR


Share:

Semangat Membara bersama BPUN

Semangat Membara bersama BPUN
Slamet Setyawan

Assalamualaikum mentemen pejuang kampus , salam semangat untuk jiwa muda yang membara . Perkenalan Namaku Slamet Setyawan tapi suka dipanggil "sulis" (jangan kaget dengan nama panggilan ku) , aku lahir tahun 2001 di sebuah desa kecil nan damai ,jauh dari terangnya lampu jalanan kota dan bisingnya aktifitas binatang besi (kendaraan) , hidup di desa terpencil lalu membuatku buta pendidikan ?


Tidak !!


Justru aku yang hidup di desa terpencil malah ingin sekali melek pendidikan , tapi sebelumnya apasih arti pendidikan ?! 


Nah membahas pendidikan aku jadi ingin berbagi kisah pengalaman ku dalam mencari arti pendidikan .


Semasa SMA kelas satu dulu aku ingin yang namanya ber-kuliah karena orang yang berkuliah adalah seseorang yang kelihatan wah !


Di desa , aku yang kelas 2 SMA ingin bekerja membantu ekonomi keluarga yang bisa di kata tidak kaya tapi cukup bahagia , dan aku yang kelas 3 malah bingung mau memilih yang mana (kuliah atau kerja) , 


Nah


Kebetulan ada sosialisasi mengenai pentingnya kuliah lalu tanpa banyak berpikir panjang aku ikut Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) Grobogan.


Aku kira didalam BPUN itu pembelajarannya biasa-biasa saja , yang tidak seru untuk seorang pencari pengalaman seperti ku , tapi ternyata didalam tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai bagaimana tips dan trik diterima di universitas favorit tapi juga memberikan banyak pembelajaran baik hardskill maupun softskill dan bonusnya adalah kita bisa bertemu dengan orang-orang cerdas lain dari berbagai daerah di Grobogan khususnya.


Di BPUN tidak mulu dalam pembelajaran ada juga permainan-permainan yang seru yang bakal merefresh pikiran kalian dan dalam BPUN kita diajarkan bagaimana menjalin ikatan bagaikan keluarga dan memang ikatan inilah yang membuat anggota dalam BPUN sangat peduli dengan keadaan teman-teman yang lain.


tidak hanya sebatas di BPUN saja bonusnya ternyata setelah aku kuliah di salah satu Universitas di semarang (Universitas Wahid Hasyim Semarang) banyak pembelajaran yang dulu aku dapatkan di BPUN dapat digunakan sebagai jalan keluar dalam menghadapi suatu masalah yang terjadi dalam sebuah organisasi kampus gitu !! 

Jadi apa yang di ajarkan di BPUN tidak ada satu pun yang tidak manfaat bagi kita , wah pokoknya banyak deh keseruan dan kebahagiaan yang tersaji dalam BPUN ,    Pokoknya seru deh , jadi untuk adek-adek ku gabung yuk di lembaga Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN) karena ga ada ceritanya kita menyesal kalo gabung di BPUN
Share:

Asa Citaku Bermuara Di BPUN

Asa Citaku Bermuara Di BPUN
Aufa Nuha Ikhsani


Oleh: Aufa Nuha Ikhsani

Hallo kawan-kawanku yang tak malas membaca!
Bolehlah aku berbagi sedikit?

Aufa Nuha ikhsani, iya itulah namanya. Anak desa yang memiliki cita-cita tinggi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Itupun suatu hal mustahil untuk diwujudkannya. Orang tua yang hanya buruh tani, kerja kesana kemari hanya cukup untuk makan anak istri. Mimpi ingin kuliah di Universitas Negeri. Yang biayanya mahal untuk dijangkau jari-jemari.

Notabanenya pun pondok pesantren, dunia luar ia tak tahu-menahu. Kembali berkecambung dengan pondok pesantren, itu yang mengelinang di otaknya dulu. Sebab dia ingin kuliah tapi tak tahu apa-apa tentang dunia perkuliahan.

Kenallah dia dengan BPUN (Bimbingan Pasca Ujian Nasional). BPUN mengajarkanya banyak hal dunia perkuliahan. Sebulan penuh ia di karantinakan, diajarkan menerima layaknya pondok salafiyahan. Makan senampan tak mengapa asal kebersamaan.

Sebulan penuh pula ia diajarkan materi SBMPTN. Makanan pokok utama untuk persiapan hadapi UTBK 2019. Yang di sekolah pun ia tak tahu apa itu SBMPTN, tapi di BPUN semua dijabarkan secara rinci dan memahamkan.

Iya itulah, satu bulan yang melelahkan otak dan menentramkan untuk jiwa kami para tahanan karantina yang bermimpi untuk kuliah di PTN favorit. Berlelahlah untuk masa depan cerah. Prinsip yang selalu ia pegang teguh. Tak mau habiskan masa muda hanya berpangku tangan menunggu keajaiban yang tak kunjung datang.

UTBK yang ditakutkan akhirnya datang masanya. Berusaha semaksimal untuk mendapatkan nilai terbaik, agar bisa mendaftar di UNNES. Tapi sayang, nilainya masih rata-rata kemampuan. Bersaingan dengan mereka yang hebat di luaran sana mengandalkan suatu keajaiban.

BPUN lah yang membimbing untuk memilih PTN yang mencakupi dengan nilai yang semampang. Ia putuskan untuk mendaftar di UNNES jurusan Geografi murni. Iya begitulah kalau berbicara jodoh. Ia gagal menembus UNNES.

Pupus sudahlah harapannya untuk kuliah. Gagal SBM suatu hal yang mengerikan. Pukulan telak untuk dia yang berjuang mati-matian. Tapi BPUN tak berhenti sampai di SBMPTN. BPUN juga membantu kami yang gagal. Dicarikannya jalur mandiri di PTN tujuan mereka.

Alhasil ia pun masih bisa masuk di IAIN Salatiga lewat jalur undangan. Iyah, suatu nikmat yang tak pernah disangkanya. Makasih BPUN.

Pengalaman yang menyenangkan bukan? So? Darimana lagi dia bisa dapat bimbingan gratis kalau bukan di BPUN, memang banyak bimbingan yang menjanjikan. Tapi bukankah semua itu prabayar? Mengocek uang dalam-dalam untuk mendapatkan.


Share:

Pengalaman Sekali seumur hidup di BPUN

Pengalaman Sekali seumur hidup di BPUN
Reza Listyorini

Halo semua~ Asalamualaikum warrahmatulllahi wabarakatuh


Kali ini aku mau share pengalamanku sekali seumur hidup mengikuti SBMPTN, satu-satunya ujian yang rasa takutnya sampai pengen menenggelamkan diri di empang lele. Iya, semenakutkan itu jadi balik kanan pengen nikah aja ga'si ehe canda.

Warning : postingan panjang, silahkan beli popcorn dan teh gelas dulu. *eh

Oke sebelumnya Aku akan memperkenalkan diri  terlebih dahulu dan bagaimana awal pertemuan manisku dengan BPUN*ceileh. Jadi, perkenalkan Aku Reza, seorang mahasiswi yang akan memasuki semester 2 di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di bawah naungan Kementrian Kesehatan yang terletak di Surakarta. Disini Reza bakal cerita bagaimana akhirnya BPUN  membawa Reza berkuliah tanpa mengeluarkan biaya.

"BPUN, for me, is a treasure.. Dulu, belajar itu absolutely dull.. But now, I’d learn everything asal di BPUN...

Buat seorang yang berniat banting setir dari IPA ke IPS dan sebaliknya, pasti banyak banget materi yang harus dikuasai, semuanya harus dari 0. Apalagi untuk anak SMK yang materinya jauh banget berbeda dengan materi anak SMA yang di ujikan di UTBK, pastilah kalian harus balik kanan segera belajar. Ditambah rentang waktu menuju UTBK kurang dari 3 bulan lagi.. Everything just seems out of reach..

Boleh kita flashback ke sekitar 1 tahun yang lalu, Reza sama seperti kalian Pejuang PTN yang saat ini sedang struggling-strugglingnya.Ya Reza ingat betul pada saat itu, Saat dimana keresahan mengenai cara belajar, Tips & Trick masuk PTN impian, strategi mengerjakan soal dan yang lainnya. Hingga pada akhirnya bertemulah dengan BPUN Tercinta. Sorry agak lebay, But this real life.

Pertama-tama Alkhamdulillahirabbilalaamiin Reza ucapkan syukur kepada Allah swt dan junjungan nabi kita Nabi Muhammad saw juga buat BPUN serta para mentor yang sudah berhasil mengantar Reza untuk bisa berkuliah tanpa mengeluarkan biaya, Alhamdulillah sekali bukan. But wait, tidak semudah makan pisang telen kemudian kenyang ya hehe.. Perjalanan reza terasa meaningful, insightful dan tentunya impactful buat kehidupan secara personal. Jadi di BPUN Reza ga hanya diajari banyak materi tentang UTBK, tapi diajarin untuk yang namanya berpikir kritis sekritis-kritisnya. Reza mulai melihat sesuatu materi yang baru ga hanya sekadar ‘yaudah materi buat ujian’, tapi juga melihat itu sebagai suatu konsep yang saling terkait satu sama lain. Melalui BPUN, Reza juga mulai terbuka dengan buku-buku keren tentang science, self improvement dan masih banyak lagi tentunya. Hampir satu bulan berlalu dan Reza sangat-sangat merasakan dampaknya waktu ngerjain UTBK bahkan Yang lainnya pula. UTBK tahun ini memang mengasah yang namanya konsep (ga sekadar hapal rumus, masukin, ketemu!). Dan di sinilah BPUN berperan besar tentunya.

Temen-temen pasti mau lah tinggal bersama orang-orang yang memiliki satu tujuan. Setiap hari bertemu, makan bersama, berjuang bersama dan yang paling seru belajar bersama, Dimana kita dapat saling bertukar pikiran hingga memahami bersama. Mau tidur lihat teman seperjuangan eh bangun tidur lihat pula, Seru kan ya.. Tentunya!

Keseruan lainnya , Dalam karantina BPUN itu bukan hanya melulu soal belajar untuk UTBK, belajar, belajar dan belajar Non-stop pokoknya. Tidak-tidak, Jadi di BPUN nanti teman-teman akan merasakan belajar bersama teman seperjuangan PTN Impian, Tryout UTBK tiap minggunya, Tips & Trick, Pengenalan Dunia kampus serta tidak lupa dengan waktu bermain. Nahkan dengan begitu otak kita tidak akan terdistrack dengan horornya soal UTBK.

Jadi bayangin aja saat kita dirumah kita malas belajar semangat kita down dalam perjuangan peraihan mimpi ini peraihan PTN Impian, yaudah kita ga belajar but disini nih salah satu bedanya kalo di BPUN. saat kita berada pada titik dimana kita malas belajar, Down dan lainnya Lingkungan BPUN jadi moodbooster dalam belajar, dan pada akhirnya Semangat lagi deh yeay

Tidak hanya itu, masih banyak lagi deh keseruan yang akan temen-temen dapat jika bergabung dalam lembaga BPUN ini, So tunggu apalagi segeralah daftarkan diri kalian!!



Oiya,Sedikit tips nih buat kalian yang mau struggling dengan jalan belajar sendiri, Reza rekomendasiin BPUN buat kalian! Penulis alamin sendiri!

Meski Reza ngga masuk dalam kampus serta jurusan yang menjadi tujuan reza di awal, Reza Fine.Its ok

Reza tahu Allah telah memberikan nikmat yang reza harapkan dalam jurusan yang menjadi impian dalam bentuk yang berbeda bahkan mungkin bisa jadi nikmat yang sekarang ialah nikmat yang Allah beri lebih dari apa yang Reza harapkan di kampus dengan jurusan yang bukan menjadi rezeki pada sebelumnya. I feel so



Point of opinion, secape-capenya kalian, kalian harus tetep semangat dan pantang nyerah buat dapetin universitas impian kalian. Bosen, sakit, cape, air mata, emosi.. Itu semua wajar kok! Keep the faith, it will be worth it at the end! GOOD LUCK siblings BPUN-ku!“(Reza)

Share:

Memperingati Hari Santri Nasional

Bpun Grobogan dan Santri Al Yahya memperingati hari Santri


Moment saat anak-anak Bpun Grobogan setelah ikut berpartisipasi memperingati Hari Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2019 di Alun-alun kota Purwodadi.


Share:

Meraih Perguruan Tinggi Impian Bersama BPUN

Meraih Perguruan Tinggi Impian Bersama BPUN
Meraih Perguruan Tinggi Impian Bersama BPUN

Tahukah Kamu???
Kuliah nggak harus bayar lho!!!!!

Perlu Teman-teman tahu ada program dari pemerintah untuk mewujudkan itu.
melalui program beasiswa bidikmisi, memberikan jaminan kepada warga negara yang kurang mampu secara finansial dan berprestasi untuk dapat mengakses pendidikan di Perguruan Tinggi. Program beasiswa bidikmisi ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kuliah bagi mereka para warga yang kurang mampu agar dapat menjangkau pendidikan di perguruan tinggi secara gratis dan tanpa biaya. Bahkan lebih dari itu, melalui program beasiswa Bidikmisi ini, mereka yang kuliah masih mendapat dana tambahan sebagai biaya hidup (living cost). 
Bahwa program beasiswa ini adalah salah satu wujud komitmen pemerintah dalam mewujudkan salah satu cita-cita bangsa yang berasal dari amanat para pelopor Negara Republik Indonesia yang tertuang dalamn pembukaan Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yaitu ” mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Tapi teman-teman tau nggak gimana caranya Mendapatkannya?
Nggak tau kan, nah di BPUN dibimbing dan dijembatani untuk mu agar dapat meraih PTN impianmu dengan Beasiswa. Banyak lho yang sudah membuktikannya.

Masih Ragu?  Nggak usah ragu
Masih Takut? Nggak Usah Takut
Masih berpikir? Nggak usah banyak berpikiran kemana-mana

                        Sudah Nanti Kuliahnya Gratis, nggak bayar biaya masuk, dan bombastisnya lagi masih mendapatkan Uang Saku Per-bulan. Rugi banget nih.
Siapa toh Yang nggak mau Kuliah GRATISSSS !!!!

Yuk Segera Bergabung bersama kami di BPUN Kabupaten Grobogan Tahun 2019

Caranya dengan Klik Link Pendaftaran di bawah ini


Kami Tunggu Di BPUN!!!!

Share:

Wujudkan Mimpi Bersama BPUN




Wujudkan Mimpi Bersama BPUN
Wujudkan Mimpi Bersama BPUN


Holla!
Salam bahagia untuk kalian semua, generasi tak malas baca.
Perkenalkan, namaku Lailatun Na’imah. Seorang anak petani yang tak lama lagi berumur 20 tahun. Aku tinggal di desa Bangsri, salah satu dari tiga desa yang terapit oleh keterbatasan dan jauh dari hiruk pikuk kota (baca: Hutan). Kini aku sedang menempuh studi di Universitas Negeri Semarang untuk mendapat gelar S.Psi. Februari di 2019, euforia (calon) lulusan SMA sederajat yang sedang gegana mencari Kampus sampai pada tulisan ini. Aku jadi ingin berbagi pengalaman tentang “aku” di tiga tahun lalu.

Aku lulus dari SMA Negeri 1 Geyer di tahun 2016. Pilihan tentang masa depan berlalu lalang di pikiranku saat itu (Kerja atau Kuliah?). Aku sempat berkeinginan untuk memilih bekerja, namun setelah ku pertimbangkan kembali, usia yang masih muda terlalu berharga jika tidak dihabiskan untuk mencari ilmu. Sedangkan kendala untuk memilih kuliah, aku merasa tidak tau apapun tentang dunia kampus. Rasanya berat jika harus kuliah, mengingat yang ku tahu biaya kuliah tidaklah murah. Sampai pada suatu kesempatan, aku dikenalkan dengan BPUN (Bimbingan Pasca Ujian Nasional). Bimbingan belajar yang membantuku mempersiapkan segala amunisi untuk bertarung di SBMPTN 2016.

Selama kurang lebih satu bulan aku ikut diasramakan di BPUN, bersama dengan orang-orang yang memiliki tujuan sama, yakni masuk Perguruan Tinggi Negeri. Saat itu, ku kira satu bulan di asrama akan menjadi hal yang membosankan. Di pikiranku, ya namanya bimbingan belajar paling masuk kelas, dapat materi, tidur. Ternyata satu bulan terasa terlalu singkat, untuk hal-hal yang pasti tidak bisa didapatkan dimanapun. Nah! Di BPUNaku dapat kesempatan untuk mengupas tuntas materi yang diujikan di soal tes SBMPTN dan didampingi oleh tutor (kalo di sekolah manggilnya Guru) yang luar biasa. Tak hanya itu, strategi mengisi pilihan untuk jurusan dan kampus yang kuinginkan juga dibeberkan disini. Lebih lengkap lagi, kami juga didampingi untuk mendaftarkan beasiswa Bidikmisi. 


Amunisi inilah yang aku bawa untuk bertarung di SBMPTN 2016, dengan begitu banyak pesaing dan hanya sedikit peluang untuk lolos di PTN. Hingga pada akhirnya, usaha menempa diri satu bulan di BPUN dan segala do’a dari orang terdekat membawaku lolos SBMPTN dan diterima di jurusan Psikologi UNNES dengan uang semesteran Rp. 0,-. Seandainya aku tidak bergabung di BPUN, pasti amunisiku tidaklah cukup kuat untuk bersaing dengan orang-orang hebat diluar sana. Pun, pengetahuanku pasti terlalu cupu untuk mengenal beasiswa, organisasi kampus, dan lain sebagainya. BPUN tidak hanya memfasilitasi untuk belajar, tapi juga membuatku menemukan keluarga. Kini mereka telah berpencar di berbagai Perguruan Tinggi favoritnya. 

Dan, keluarga baru juga kutemukan setelah masuk kampus dengan bertemu alumni BPUN dari kota lain. Iya, se-menyenangkan itu! Aku tidak dapat menceritakan semuanya disini, karna terlalu istimewa untuk menjadi sebuah tulisan. Kalian pasti tahu bagaimana istimewanya, kalau sudah menjadi bagian dari keluarga BPUNGrobogan. (Ku tunggu !) :D

Aku berharap, akan ada lebih banyak lagi “pemimpi yang tidak hanya bermimpi”. J
See ya~

Share:

Dari BPUN Sampai Perguruan Tinggi Negeri


Dari BPUN Sampai Perguruan Tinggi Negeri
Dari BPUN Sampai Perguruan Tinggi Negeri


Ungkapkan Keinginanmu dan Raih Mimpimu

Saya Siti Khofifah, kerap disapa Khof. Lahir di Grobogan,14 Juni 2000. Saya adalah alumni TK Dharma Wanita Plosorejo, SDN 2 Plosorejo, MTs Nuril Huda, MA Nuril Huda, dan saat ini sedang menimba ilmu di Universitas Negeri Jenderal Soedirman juruan Fisika.

Awal Saya mengenal BPUN 2018adalah saat ada dua Mahasiswa dari UNNES dan UNDIP menyosialisasikannya di MA Saya. Saat itu mungkin Saya masih bimbang mau kemana nanti Saya setelah lulus nanti? Namun, dengan adanya BPUN2018 Saya meyakinkan diri Saya untuk melnjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu di Perguruan Tinggi.

Sebelum BPUN hadir, tentunya ada seleksi masuk Perguruan Tinggi tanpa tes seperti; SNMPTN dan SPAN-PTKIN. Namun, Saya singkirkan kesempatan berharga itu karena memang tak ada keinginan untuk kuliah di tahun 2018 ini atau bisa dibilang berhenti satu tahun terlebih dahulu. Kenapa? Karena banyak faktor yang mempengaruhi hal itu dapat terjadi, diantaranya adalah biayadan keadaan yang tak memungkinkan bagi Saya melanjutkan kuliah. Bapak Saya seorang petani, sedangkan ibuk Saya sedang menderita sakit. Namun, ada sebuah motivasi yang menjadikan Saya bangkit kembali “Jangan bebani keinginanmu dengan keadaanmu” begitulah kata pak Mukhlisin salah satu guru Saya di MA.

Sejak Saya sadar bahwa keinginan tak dapat mengalahkan keadaan selagi ada semangat dan kerja keras, Saya mencoba mewujudkan sedikit demi sedikit mimpi yang telah terlukis di harianku yakni menjadi seorang Menteri di tanah air ini, Indonesia. Layaknya Bapak Saya memberikan nama Khofifah, dimana itu adalah nama Menteri saat Pemerintahannya pak Abdurrahman Wahid yang saat ini menduduki bangku Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa.

Awal mengikuti BPUN 2018 melalui seleksi bersama siswa-siswi se-Kabupaten Grobogan Saya merasa kurang percaya diri, karena Saya rasa prestasi tidak ada, peringkat kelas pun juga tak berhasil Saya dapatkan. Namun, Saya tidak menyerah dengan keadaan dan bersikeras untuk dapat melanjutkan pendidikan di jenjang yang lebih tinggi dan ridho dari Allah SWT, alhamdulillah Saya dapat lolos tahap pertama seleksi bersama masuk BPUN 2018 dengan peringkat ketrerima pun tak jauh jauh dari peringkat terakhir.

Di BPUN Saya diajarkan banyak hal. Mulai dari bagaimana cara bersosialisasi, kepemimpinan, keorganisasian, perkuliahan, tips dan trik agar dapat diterima di Perguruan Tinggi, sampai bagaimana menentukan jurusan yang akan dipilih. Banyak juga rutinan-rutinan, seperti doa bersama dan dzikir, agar memberikan ketentraman dan kemantaban dalam rohani kami. Para pejuang Perguruan Tinggi, di BPUNkami dibimbing olehtentor-tentor yang mendampingi untuk belajar mempersiapkan materi yang akan diujikan di SBMPTN kelak. Tentunya tentor-tentor itu adalah yang ahli di bidangnya masing-masing, dan ada yang berasal dari Alumni BPUN sendiri.

Masuk di BPUN 2018 tentunya suatu hal yang amat berharga bagi saya. Peringkat 10 besar di kelas saja tak pernah Saya dapatkan, apalagi mengalahkan beribu-ribu pendaftar SBMPTN se-Indonesia. Tapi, dengan menerapkan pola-pola belajar yang diajarkan di BPUN membut Saya lebih rajin dan bersemangat untuk masuk ke Perguruan Tinggi.

Kala itu pertama kalinya kumpul teknikal meeting BPUN, dimana itu adalah awal saya memberanikan bicara kepada orang tua saya untuk melanjutkan sekolah di Perguruan Tinggi. Karena sebelumnya pihak keluarga memang tidak begitu setuju dengan keputusan Saya untuk kuliah dan menyarankan untuk bekerja terlebih dahulu. Daftar dan seleksi BPUN 2018 pun Saya tidak izin, ketika dinyatakan lolos seleksi BPUN 2018, Saya justru kebingungan. Mau Saya ambil dengan konsekuensi harus lolos dan kuliah tahun ini sedangkan keluarga tidak begitu menyuport, atau Saya lepas yang artinya Saya sia-siakan usaha Saya ikut seleksi. 

Hari H Teknikal Meeting, Saya konsultasi dengan Guru BK yang sekaligus Kepala Sekolah, Saya ceritakan semua keluh kesah saya kepada beliau sampai saya diberi titik temu "minta izin kepada orang tua, sampaikan niat mbak untuk melanjutkan sekolah, kalau mereka mengizinkan monggo lanjut, kalau tidak mengizinkan manut wae, ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua" kata beliau waktu itu "saya tunggu sampai jam 3 sore, kalau tidak datang saya tinggal" tambah beliau dengan sedikit senyuman. Segera mungkin saya langsung bergegas pulang, dengan rasa takut mengungkapkan keinginan saya kepada orang tua saya bahwa saya ingin melanjutkan kuliah dan ketrima seleksi BPUN, saya pun mulai bercerita kepada orang tua saya, perlahan dan saya jelaskan sejelas-jelasnya kepada orang tua saya. Alhamdulillah, mereka mengizinkan saya untuk ikut bimbingan di BPUN 2018 yang kala itu di asramakan di MA Shofa Marwa Toroh.


Atas restu kedua orang tua saya, saya pun lebih bersemangat belajar untuk menghadapi SBMPTN. Saya mengikuti semua aturan yang ditetapkan panitia BPUN, karena saya sadar disini Gratis dan terdiri dari 80 peserta dengan dihandle oleh panitia, saya merasa harus bisa membanggakan mereka dengan lolos SBMPTN. Di BPUN saya diamanahi sebagai ketua kelompok yang terdiri dari lima orang, pelajaran berharga yang saya dapatkan disini tentang kepemimpinan, dimana saya harus menjaga kelompok saya, harus tau keadaan kelompok saya, dan harus bisa menjadi seorang pemimpin yang baik serta bijak.

Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Ya, kala itu hari terakhir BPUN di Desa Asemrudung, Geyer (Yayasan Al Yahya Nusantara). Kami ber delapan puluh beserta panitia harus berpisah oleh waktu. Berpisah hanya dilahirnya karena kita semua tetap satu keluarga, BPUN Grobogan.

Untuk teman-teman bergabunglah bersama kami Di BPUN dan wujudkan impianmu meraih Perguruan Tinggi Negeri!!!!
           

Share:

Followers

Popular Posts

Powered by Blogger.

Contributors

Labels

Recent Posts